Tujuan Pembelajaran – Hal penting yang sering terlewatkan dalam pembuatan media pembelajaran

Tujuan pembelajaran dalam suatu media pembelajaran merupakan suatu indikator penting apakah suatu pembelajaran telah berhasil atau tidak. Selain berfungsi sebagai indikator, tujuan pembelajaran adalah landasan atau referensi bagaiman pembelajaran dalam suatu media akan dirancang. Robert F. Mager, salah seorang tokoh desain instruksional, bahkan mengataka

n dengan kalimat sederhana mengenai pentingnya tujuan pembelajaran :

If you’re not sure where you are going, you are liable to end up someplace else

Menurut Mager sebelum suatu tujuan pembelajaran ditentukan dengan jelas sebaiknya semua langkah-langkah dalam desain instruksional dihentikan terlebih dahulu. Sebagai ilustrasi misalnya kita berencana pergi ke Surabaya. Sebelum kita menentukan apa tujuan kita ke Surabaya sebaiknya kita abaikan dahulu berapa lama k

ita akan tinggal, dengan moda transportasi apa kita akan menuju ke sana, di mana kita akan menginap, di mana kita akan makan, dsb. Misalnya kita terlanjur booking hotel untuk 2 hari dan ternyata kita hanya rapat selama 2 jam, maka tentu saja booking hotel kita akan mubadzir. Kurang lebih seperti itulah ilustrasinya. Sayangnya prinsip yang sederhana ini banyak yang diabaikan oleh para pembuat media pembelajaran. Alih-alih menjadikannya sebagai referensi bagi desain pembelajaran, para pengembang langsung memikirkan bagaimana merangkai materi yang ada lengkap dengan media yang dibutuhkan seperti animasi, video, dsb.

Baik saya akan memberi contoh yang konkrit. Misalnya kita diminta untuk membuat suatu bahan belajar dengan berbasis web atau multimedia dan bahan yang akan kita suguhkan kepada para pengguna adalah mengenai lingkaran dalam segitiga. Tentu saja kita tidak langsung memikirkan bagaimana kita menunjukkan bagaimana suatu lingkaran dalam dilukis, tetapi terlebih dahulu kita tentukan tujuan pembelajaran dari topik “lingkaran dalam segitiga” yang tepat dan sesuai bagi media web atau multimedia. Baik, kita coba saja melakukan brainstorming dan menuliskan ide yang muncul dalam suatu daftar. Dafftar berikut ini bisa jadi mewakili :

  1. Siswa dapat menjelaskan cara melukis lingkaran dalam segitiga
  2. Siswa dapat menyebutkan urut-urutan prosedur pelukisan lingkaran dalam segitiga.
  3. Siswa dapat melukis lingkaran dalam segitiga
  4. Siswa menghitung  jari-jari lingkaran dalam segitiga

Baik, untuk sementara kita anggap cukup.  Selanjutnya kita teliti satu atau lebih tujuan pembelajaran yang tepat untuk kasus kita. Sebelum melangkah ada baiknya saya ingatkan bahwa tujuan pembelajaran terkait erat dengan pengujiannya, hal apa yang akan diuji dan dengan cara apa. Jika kita menggunakan media web atau multimedia maka tentunya moda bagi pengujiannya juga harus selaras dengan karakteristik media tersebut. Kita coba teliti tujuan pembelajaran (TP) yang pertama. TP 1 memuat kata kerja yang spesifik dan dapat diukur yakni “menjelaskan”. Tetapi mampukah media ini menampung masukan dari pengguna yang menjelaskan secara panjang lebar ,baik lewat teks atau verbal, tentang cara melukis lingkaran dalam segitiga? Jika kita yakin bahwa konten pembelajaran ini bisa menampung masukan semacam itu kita bisa pilih TP1, tapi jika tidak kita coba cari TP-TP yang lain. TP2 juga mengandung kata kerja yang spesifik dan implementasi bagi pengujiannya mudah dilakukan. Karena kata kerjanya adalah “menyebutkan” kita bisa merancang suatu moda pengujian berupa pilihan ganda untuk memilih urut-urutan mana yang paling tepat bagi cara pelukisan lingkaran dalam segitiga. TP3 memiliki kata kerja yang lebih sulit untuk diimplementasikan pengujiannya. Karena kata kerjanya adalah “melukis” maka tentu saja dibutuhkan pemrograman yang canggih agar seseorang diberi kesempatan untuk melukis sendiri lingkaran dalam segitiga dalam komputer dan kemudian komputer memberikan penilaian bahwa apa yang dilukisnya sudah betul atau belum. TP4 bisa jadi tidak relevan karena topik bahasan adalah melukis lingkaran dalam segitiga. Besarnya jari-jari lingkaran dalam barangkali tidak diperlukan dalam hal ini.

TP1 dan TP3 mengharuskan kita untuk menyediakan moda pengujian yang lebih rumit pengimplementasiannya bila dibandingkan TP2. TP4 kita anggap saja tidak relevan. Jadi yang kita pilih adalah TP2. Setelah TP2 kita tetapkan maka baru kita pikirkan cara penyajiannya. Perlukah kita menampilkan animasi agar siswa dapat menyebutkan urut-urutan cara melukis lingkaran dalam segitiga ? Urut-urutan gambar barangkali sudah memadai untuk menunjukkan cara melukis lingkaran dalam segitiga. Tetapi animasi juga bukan suatu idea yang buruk karena ilustrasi pelukisan lingkaran dalam segitiga akan lebih hidup dan lebih detil. Pada bagian ini seorang perancang instruksional semestinya bisa menentukan pilihan yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pemrogram di dalam mewujudkannya. Kita anggap pilihan kedua yang kita ambil karena animasinya mampu dibuat . Dengan demikian kita akan menampilkan suatu animasi dimana siswa akan mampu menghapal dan menyebutkan urut-urutannya dengan benar. Pengujiannya akan dilakukan dengan cara pilihan ganda. Ok, it’s done.

Kita segera produksi bahan belajar kita dan kurang lebih tampilannya adalah seperti di bawah ini :

Perhatikan bahwa dalam hal ini animasi memang mampu menjelaskan kepada siswa urutan cara melukis lingkaran dalam segitiga. TP1 dan TP3 bisa saja dijelaskan dengan animasi yang sama tetapi konsekuensinya program harus menyediakan sarana bagi siswa untuk menjelaskan pengetahuannya secara panjang lebar atau sarana untuk melukis di komputer. Yang jelas TP2 telah terpenuhi dengan animasi di atas. TP4 barangkali tidak memerlukan animasi di atas. Jadi jika kita pilih TP4 dan kita sampaikan dengan animasi di atas maka animasi di atas menjadi mubadzir dan terlalu mahal. Inti dari diskusi ini adalah :  penentuan animasi di atas didasarkan atas tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan bukan karena animasi tersebut menambah daya tarik konten.

Iklan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s